Senin, 28 April 2014

Catatan Alumnus Salak

Ide ini mula-mula dari Power Ranger n’Friend, sepertinya mereka galau abis, saat melihat photo-photo saya di Cikuray atau Uly di Gede, hahaha… *Pedehh 

Intinya kita semua kangen Gunung ajah, titik(.) *Kitaaaa…???akuuurrr… 

Allah SWT, Maha pencipta keindahan…
Mereka hidup, berdzikir tak kenal lelah, sujud dan taat mengikuti perintah penciptanya. Kangen mendengarkan mereka bercerita, kicauan burung-burung yang bersahutan, hembusan angin, tarian pepohonan, perkasanya gunung, kemilau matahari yang menyinari, gemericik air mengalir, aroma daun bercampur tanah, tetesan embun. Subhanallah… paduan yang luar biasa indahnya.

Terencana tiga bulan, sejak Januari hingga pertengahan April , *lamanyaaaa… dan
Alhamdulillah… akhirnya bisa menjumpaimu, dari trip awal ke Gede-Pangrango, ganti ke Papandayan, balik lagi ke Gede-Pangrango namun akhirnya Salak yang Allah Ridhoi… (Jodohku, kata mas lanang heransayah. Hahaha…)

Pengumpulan Informasi
Dimulai Januari sampai Februari 2014, rencana ke Gede-Pangrango kami urungkan karena jalur pendakian sementara ditutup, akibat cuaca dan kasus kematian pendaki pemula. Beralihlah ke Papandayan, di bulan ini fokus kami hanya pada siaga banjir, sedikit informasi yang tergali untuk rencana pendakian ini. Meletusnya Sinabung kemudian disusul Kelud, tertahanlah impian kami, apalagi saat mengetahui Papandayan berada dalam daftar 22 gunung berapi di Indonesia, dengan status waspada level 2.

Akhir Maret, Back to Gede-Pangranggo.  
Tak apalah dengan kuda besi, cukup berdua saja kami mengawali survei ini, merumuskan kembali mimpi-mimpi menjumpaimu. Sore yang indah menuju kota bogor, menikmati khitmatnya sholat Maghrib dan Isya di Masjid Raya Bogor, sedapnya serabi pisang-keju-susu ada juga yang dikombinasikan dengan durian, ditemani secangkir kopi susu atau jus jeruk, aah… Ma’nyuz bonus empat jempol, dan kami memutuskan bermalam di rumah sahabat berbagi kisah. 

Pagi yang sejuk di kota Bogor, sedikit terlibat dalam kegiatan kerelawanannya, di sebuah pesantren bernama Ummul Quro, santriwatinya cantik, lugu dan ramah, euy… *benerin jilbab sambil ngaca
Dan cukup tau saja kalau orang bogor bilang deket, padahal arti sebenarnya jauh, apalagi kalau bilang jauh ya?

Setelah sholat Dhuhur di masjid Al Hurriyyah IPB yang indah, kemudian kami pamit menuju Cibodas, mendaftarkan diri menemuimu. Dalam waktu lima puluh menit tancap gas, Alhamdulillah… kami sampai. Karcis retribusi di dae
rah wisata ini cukup mengelitik, tertulis tiga ribu rupiah persatu orang, tapi kami musti bayar sembilan ribu, *Nahloh… sisanya kemana tuh? Bapak… Ibu…(gaya Ibel…)

Dibawah karcis tertulis, “Bisikan Alam : Biarkan aku tumbuh, Demi masa depanmu yang jaya”.

Sampai di kantor pendaftaran lagi-lagi harus menelan kekecewaan, pengajuan pendakian kami, di tolak. Ada juga calo yang menawarkan pendakian, tapi cukuplah akhiri sejenak perjalanan ini, mari tutup dengan menikmati nasi soto dan teh hangat, mengulas kembali cerita-cerita indah di Mandalawangi, sambutan paralayang di Puncak Pass yang berayun di langit sore, mendarat indah dihamparan kebun teh. Kereeeen… 

Menjelang senja, kami menghubungi Mang Ojo, guide yang memang sejak awal akan menemani, dalam pendakian ini, harap bisa membantu, kebuntuan usaha ini, menjumpaimu… dan pendaftaran Gede-Pangrango kami sepakati lewat jalur Salabintana dan bila tak terwujud, Salak akhir keputusan kami.

April, Go to Salak I’m comeback again…
 
Menyiapkan perlengkapan, menjaga kondisi fisik dan perbekalan, merupakan fokus kami saat ini. Saya bahagia dan bersemangat, melihat keyakinan dan antusias teman-teman untuk terus melanjutkan trip ini, walaupun tempat berganti-ganti, perlengkapan yang belum memadai dan jumlah kami, menjelang pendakian malah semakin sedikit. 

Jum’at, 18 April 2014.
Bismillah… total jumlah kami, fix dua belas orang, tujuh srikandi, tiga pengawal dan dua panglimanya. *ups, haha.. tujuh wanita, dan lima laki-laki.
Kereta merupakan alternatif yang paling nyaman, murah dan mudah yang kami pilih. Bertemu di stasiun Bekasi, berangkat pukul 07.00 wib, dan sebagian ada yang melalui stasiun Pondok Kopi. Pukul 09.00 wib, kurang lebih sampai di stasiun Bogor, bertemu mang ojo dan mang marsya, belanja sedikit perbekalan makanan, kemudian trip dilanjutkan lewat arah timur menuju jalur Cimelati dekat Cicurug, tepatnya perkebunan murbei dengan carter angkot yang doyan minum teh gelas,*amajing, bingit…
Pukul 12.00 wib sampailah tempat yang dituju, sholat jum’at, lalu istirahat sejenak di pos registrasi. Trip kami mulai pukul 16.00 wib, memasuki rerimbunan hutan Gunung Salak, menerobos semak, melewati satu demi satu pepohonan yang menjulang, menyusuri jejak, sunyi, sepi dan tak terlihat seorang pun pendaki, serasa hutan hanya milik kita. Dalam hati, Berharap semoga pengalaman mistik tahun kemarin tak terulang lagi. *Huwaaa…
Mengawali langkah dengan do’a bersama, pompaan motivasi semangat, sesekali celotehan yang mengelitik, dari ibel… ibil dan ubil (bukan nama sebenarnya, sebut saja begitu,hahaha…).
Tiga jam perjalanan, Menjelang maghrib, kami sampai di shelter 9, dan bermalam. Tempat ini merupakan satu-satunya sumber air. Menikmati racikan nasi liwet, ala chef mang ojo dan sruputan kopi susu, sungguh hutan yang ramah menyambut hangat kehadiran kami.

Sabtu, 19 April 2014.
Pagi pukul 07.30 wib selesai cek packing dan sarapan, kami melanjutkan perjalanan, menuju puncak.

Gunung salak, memang bukan gunung tertinggi di Jawa Barat, berada di wilayah kabupaten bogor dan kabupaten sukabumi, memiliki beberapa puncak, puncak tertingginya yaitu Gunung salak 1 (2.211 Mdpl). Namun tak mudah mendakinya, jalurnya terjal dan licin, apalagi di saat musim penghujan, Tragedi Sukhoi masih menjadi catatan kisah yang terus diulas disana, dan para penziarah selalu berdatangan tiap bulannya.

Trip menuju puncak banyak diselingi istirahat, ada 13 pos.

Cemilan, coki-coki, mie gelas dan energen cukuplah untuk mengobati mata saya yang kunang-kunang, *hahaha… dan Saya tercatat paling sering istirahat, selalu terakhir dalam barisan, “santai bin alon-alon asal teko neng puncak karo mas slamet lorenzo,kawan…” *haha… ngeles…

Pukul 13.00 wib, Alhamdulillah… sampai Puncak Salak 1, sumringah… capenya hilang. 

Beristirahat sejenak dan mendokumentasikan sudut-sudut favorit, di puncak salak 1.
Di Puncak salak 1 terdapat petilasan, Raden KH Moh. Hasan bin RKH Bahyudin Braja, yang biasa di sebut makam Embah Salak. Ngeri mendengar cerita mang ojo (volunteer sukhoi), Tempat lapang kami bernarsis ria ternyata dahulu tempat meletakkan mayat korban sukhoi.

Makam embah salak kabarnya juga rusak akibat tragedi tersebut, akibat tertimpa logistik, tapi kini sudah mengalami perbaikan.

Mendung berkabut mulai menyelimuti puncak, hujan turun perlahan dan kami bersiap turun melalui jalur berbeda, menuju camp kedua, biasa di sebut Bajuri, kurang lebih jaraknya 5 Km dari puncak. Pukul 13.44 wib kami beranjak meninggalkan puncak, kostum berganti jas hujan, menuruni jalur curam, licin bergelayut dengan seutas tambang, tertusuk duri semak merambat, senantiasa berhati-hati menyusuri jalur ini.
Sisi-sisinya jurang yang tertutupi lebatnya hutan yang kaya ragam vegetasi hutan hujan tropis, ada kantung semar dan anggrek. Berbeda di jalur sebelumnya, kami banyak bersua pendaki yang baru naik ataupun turun. Kemudian melewati rute salak 3 dan salak 4, menyembul kawah ratu dibawahnya indah nian hamparan pegunungan ini.

Hari mulai gelap, lembab, menipisnya oksigen, dingin, lelah dan tentunya lapar, saudara-saudari… *hahaha…

 Melewati lumpur yang ternyata kubangan babi, belepotan dan kejeblos.*oohh… my God, ga pada bilang padaan…

Menuruni bebatuan dan pohon tumbang, merosot dan menunduk, bergesas harus kami selusuri berkejaran dengan waktu, untuk segera mencapai Camp Bajuri, pukul 23.00 wib belum sampai ditempat yang dituju, sebagian dari kami sudah limbung kelelahan, bahkan kami sempat terpisah.
Salut untuk mang ojo dan mang marsya, yang tetap semangat dengan sepatu boot dan carrier besarnya, ditambah membawa beberapa carrier kami. *My Hero, sodorin bunga. haha…
Pukul 01.00 wib, kami baru sampai di Bajuri, dan bermalam disana. Pusat perkemahan pendaki, dan tentunya sumber air bersih melimpah ruah disini. 

Ahad, 20 April 2014
Hari yang indah, setelah sarapan dan cek packing, pukul 09.30 wib trip dilanjutkan turun menuju kawah ratu, gunung Bunder, taman nasional hutan gunung halimun. Berdo’a bersama dan menyemangati.

Menyusuri aliran sungai kecil, patok perbatasan kabupaten bogor-kebupaten sukabumi, landasan helly dan menikmati tanaman perdu hutan hujan tropis, ada begonia yang biasa di makan pada batangnya, asem-asem seperti belimbing sayur, batang sagu, pakis dan buah haredong (senggani), rasanya manis, kecil, berbulu dan ungu tua.  Menyusuri sumber mata air, walau landai tetap harus berhati-hati menyusurinya, sesekali menunduk.

Melewati jalur kawah mati I dan II, vegetasi tembakau merajai, terjal, agak menanjak, bau belerang semakin menusuk di jalur ini.

Tak bisa kami berlama-lama menikmati keindahan kawah Ratu, karena adanya papan peringatan, petunjuk untuk tidak berjongkok lebih dari 3 menit, karena bahaya ancaman gas beracun. Menyantap agar-agar dan berphoto, kemudian kami melanjutkan perjalanan. Menyusuri sungai kecil, ada yang warnanya putih dan hangat pengaruh belerang masih terasa.



Memasuki hutan, bebatuan yang berlumut dan hujan semakin deras, banyak jalan air yang kami lewati, banjir dan memotong arus sungai yang deras, tak ada papan petunjuk disini.


Pukul 16.00 wib, Alhamdulillah… kami sampai jalur barat pintu masuk kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak, beristirahat di kediaman mang ojo dan keluarga, membersihkan diri, sholat maghrib, menikmati makan malam dan berpamitan. Sedih bercampur senang, meninggalkan gunung ini dan seluruh keindahan di dalamnya, bertemu keluarga dan orang-orang tercinta, melanjutkan kembali aktifitas dalam hiruk pikuk kota.

Bagi sebagian orang berpendapat, mendaki gunung membuang-buang waktu, menantang bahaya, menakutkan, cari penyakit dsb, saya pun dulu juga berpikir begitu. 

Alhamdulillah… saya mendapatkan motivasi dan semangat baru, dalam balutan hikmah, menapaki hijau, kokoh, tenang dan sejuknya pegunungan ini.

Dan saya yakin, teman-teman juga mendapatkan motivasi dan hikmah jauh lebih dahsyat dan tak sesederhana saya…
Menaklukan kesombongan dan ketakutan, belajar bersabar, bersahabat dengan alam menjaga kelestariannya, pantang menyerah, banyak mensyukuri nikmat islam, usia, kesehatan, keluarga yang Allah anugerahkan… terlalu dini memang, saya mengucapkannya apalagi kedangkalan pengalaman dan ilmu yang saya dapat, bila Allah berkehendak masih banyak impian saya menjumpai gunung-gunung yang indah di Indonesia.

Bisa mencapai puncak memang tujuan tiap pendaki, tapi proses mencapainya jauh lebih berharga, kenangan indah yang menjadi untaian cerita di hari tua. Gasten Rebuffat-the great alpinist/ahli mountaineering, 1921-1985, Prancis mengatakan “Manusia Cuma bisa menjejak puncak, tapi tak pernah bisa menaklukan gunung”.

Terimakasih untuk semuanya, Allah SWT, do’a ikhlas kedua orang tua, Indonesia tanah air beta dengan Gunung salak beserta isinya, pejuang tangguh yang menyertai ada uly, yuniar, desi, kiki, lisa dan marwiyah(rela jauh-jauh dari lampung), zulkifli, dhani, ikbal, mang ojo-keluarga dan mang marsya. Mohon maaf dan terimakasih… terimakasih… terimakasih…

Nurannida, 28 April 2014

Senin, 03 Maret 2014

Peduli Muara gembong, Peduli Bekasi ku

Peduli Muara Gembong, Peduli Bekasi ku
Bekasi, Ahad, 23 Februari 2014. Izinkan saya membagi cerita tentang sebuah  daerah dipinggiran Bekasi, yaitu bernama Muara Gembong.
Pertemuan bermakna yang Allah telah rencanakan,  awalnya terhubung lewat sosial media, bisa bertemu 'SANGKUR' (Sarang Kumpul Relawan),
Seperti biasa saya lihat-lihat kicauan twit, membaca informasi seputar Bekasi, dan  akhirnya bertemulah acara ini. Acara yang sudah dua kali dilaksanakan, berisi kumpulan komunitas sebekasi (Kabupaten dan Kotamadya), yang tema kali ini masih mengangkat Peduli Muara Gembong.
Selama ini pertemuan antar komunitas di luar relawan rz , biasanya saya dapat saat mengikuti training, simulasi bencana, sekolah relawan, bekerjasama dengan komunitas – komunitas di luar bekasi. Namun, Alhamdulillah... akhirnya bisa bertemu dengan saudara-saudari relawan dari komunitas yang peduli kesejahteraan Bekasi, salah satunya Peduli Muara Gembong. 
Dalam pandangan saya selama ini, Muara Gembong adalah suatu daerah terisolir di pinggiran Bekasi, rawan bencana banjir, baik banjir rob (laut pasang) dan banjir kiriman dari kali Citarum, selain itu rawan Abrasi pantai, tertinggal dalam pembangunan daerah, lambatnya laju ekonomi perdagangan dan pendidikan, serta terkendala  hubungan transportasi karena sulit menjangkau daerah tsb. 
Padahal Muara gembong, memiliki potensi SDA (Sumber Daya Alam) yang melimpah di bandingkan daerah-daerah lain di Bekasi. Muara Gembong menyimpan minyak bumi, ikan yang banyak, serta alam yang indah dan satwa langka, lutung jawa. 
Polemik kepentingan segelintir perusahaan dan pemerintahan yang membuat daerah ini seakan dilupakan kesejahteraannya. Ya... itu kesan yang saya  tangkap dari komunitas yang telah terjun disana.
Balik lagi di acara  'SANGKUR', Saya hadir bersama dengan 2 orang rekan Relawan Rz Bekasi, banyak komunitas  baru yang kami kenal, ada Bekasi Green Attack konsen pada pembinaan hutan mangrove di pantai-pantai muara gembong dan Lutung Jawa, guna penyelamatan lingkungan.  Talago (Taman Baca Muara Gembong) konsen pada Pendidikan anak-anak muara gembong, relawan tsb membina  sebuah sekolah selama 1 tahun dengan waktu kunjungan sebulan 2 kali, dan Bahasa Inggris sebagai bidang study andalannya.
Kemudian ada MugoArt suatu komunitas yang konsen mencari dana bantuan lewat seni dan kreatifitas, mereka membuat 1000 kuda kardus yang di pamerkan  di Mall Pondok Indah dan membuat kaos serta mug tentang alam Muara gembong. Lalu adalagi komunitas Bekasi Summiter, kumpulan pendaki bekasi dan masih banyak lagi kawan...
Keindahan Pantai Beting  dan penderitaan masyarakat disana, terdokumentasi dalam setiap potret -potret yang ditampilkan komunitas photografer Bekasi. 
Kang Samba kalau saya tidak salah ingat, beliau orang asli muara gembong, katanya "saya lahir disana, besar disana, makan apa yang dihasilkan disana, minum airnya. Sudah lama menyuarakan permasalahan yang dihadapi muara gembong, sampai tahun kemarin pun saya masih berbuat demikian, tak ada solusi dan kurang perhatian, hingga bertemu komunitas yang peduli, bersama-sama menyelesaikannya sebisanya dan tahun ini bisa berbicara kembali dihadapan teman-teman tapi bukan karena permasalahan di tahun kemarin, tapi sebuah kebanggaan,, bahwa ada banyak komunitas yang peduli, padahal kawan-kawan bukan berasal dari muara gembong, tidak dilahirkan disana, bukan orang bekasi pula, tapi peduli berjuang untuk kami  (Muara gembong)."
Beliau putra daerah, yang mengajar di sebuah sekolah sangat sederhana sekali di daerah tersebut dan sekarang membuat usaha Dodol Cemang, yaitu dodol yang berasal dari buah Mangrove  yang ditanam di Pesisir desanya, Muara Gembong. Diharapkan usaha itu bisa membangkitkan perekonomian daerahnya, yang berimbas pada majunya pendidikan nantinya. "Semoga dodol Cemang bisa menjadi cemilan khas Muara Gembong", ujarnya.
Saya belajar banyak, dari pertemuan singkat tersebut, banyak ide yang mencuat dan  juga membakar semangat, semakin termotivasi bisa memberi manfaat untuk Bekasi, terutama daerah ini. Indonesia begitu kaya, Indonesia begitu indah. Kalau saya baca tagline di salah satu komunitas di Sangkur, “Gue Mencintai Indonesia Dengan Cara Gue Sendiri”.
Saya dan teman-teman Relawan RZ Bekasi pun, dipertemukan Allah dalam wadah ini, juga ingin mencintai Indonesia, peduli sesama, lewat aksi berbagi, dengan cara kita juga. Mewakafkan waktu, ilmu, tenaga, dan harta  unt

Selasa, 04 Februari 2014

Menjadi pohon ummat...

"Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yg baik seperti pohon yg baik?
Akarnya teguh dan cabangnya menjulang ke langit.
Pohon itu memberikan rasa buahnya pada setiap musim dengan seizin Rabb-nya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat" (Qs. Ibrahim:24-25)

Ayat yg indah... Saat kesempatan hidup masih diberikan, maka semangat ini terus menyala untuk memberi manfaat kepada ummat, sampai buku kehidupan kita tamat.
Pernah ada teman yang berujar, tentu harus seimbang dengan kehidupan kita, jangan melupakan masa depan kita. Saya sepakat, namun mengisi masa depan kita dengan hal-hal yang memberi manfaat untuk ummat tentu tak boleh di abaikan, saya yakin Allah tak akan melupakan hambanya... Allah akan menolong hambanya, jika kita menolong agama-Nya.

Ingin menjadi pohon yang baik, yang daun, batang, bunga, buah sampai akarnya memberi manfaat.
Sampai detik ini berharap dan terus berdo'a semoga Allah mengizinkannya...

Bermuhasabah dan Menguatkan diri
*Nurannida(Bekasi, 5 Februari'14)

Kamis, 25 Juli 2013

Menjalin Silaturahmi, Merangkai Berkah Berbagi, di Bulan Mulia ini.

Bekasi, Ramadhan 1434 H. Bulan Kemuliaan, bulan yang selalu dinanti dan dirindukan, begitu juga dengan yang kami rasakan. Ingin sekali mengisi moment Ramadhan ini dengan aksi kegiatan yang spesial, lain dari biasanya. Dan Kampus Relawan kali ini, kami mengangkat tema "Menjalin silaturahmi, demi terwujudnya Ukhuwah Islamiyah", tema yang ingin kami solid kan kembali, ukhuwah yang tidak terkotak-kotak dalam identitas organisasi, jabatan, usia, profesi, hobi dan lain sebagainya, namun semua bisa bersinergi dalam bulan yang mulia ini, dalam cinta yang satu pada Islam dan Ilahi.
Kami, mencoba merangkul semua elemen internal dan eksternal, internal yaitu seluruh keluarga besar Rumah Zakat cab.  Bekasi, ekstern yaitu organisasi-organisasi yang berada di sekitar Bekasi. Dari intern kami bersinergi dengan Amil, Korwil, Alumni relawan-relawan yang dulu pernah aktif di Rumah Zakat, dan Relawan Rumah Zakat. Sedangkan dari eksternal kami mengundang pengurus organisasi kampus, masjid, lingkungan masyarakat, sosial, penulis, klub motor dan lain sebagainya.
Waktu persiapan yang sesingkatnya, dana yang secukupnya, SDM yang seadanya, kampus relawan kami coba buat rangkaian kegiatan yang bermakna. Waktu pelaksanaan tanggal 20 sampai dengan 21 Juli 2013, permulaan acara tidak mudah, undangan telah kami data, berharap bisa ada yang terwakili dan menghadirinya, hingga sore tiba sedikit sekali undangan yang bisa hadir, karena banyaknya moment Ramadhan  yang ingin orang torehkan untuk mengisinya. Pukul  16.30 wib, acara baru kami buka. Materi pembuka disampaikan oleh Bapak Budiman, Alumni relawan angkatan-2 yang dulu pernah menjabat sebagai Branch Manajer Cab. Bekasi dan sekarang aktif dalam Zakat Agency,  Rumah Zakat. Materi, mengangkat peranan dan fungsi penting kampus relawan.
Alhamdulillah, satu persatu undangan mulai berdatangan, acarapun berjalan lancar. Hingga waktu berbuka pun tiba, diisi dengan sholat berjama’ah, silaturahmi dan makan bersama. Ada saudara/saudari kami yang hadir dari organisasi, ITJ (Indonesia Tanpa JIL), Remaja Masjid Gemma Al Azhar, FLP (Forum Lingkar Pena), PMI (Palang Merah Indonesia), RI (Relawan Indonesia), Formas NJM(Forum alumni SMK Nurjamilah), Sekolah tinggi agama islam dan tentunya keluarga besar Rumah Zakat cab. Bekasi.
Badha isya, rangkaian kegiatan masih berlanjut, kali ini silaturahmi antar keluarga besar Rumah Zakat saja, dengan mempersiapkan masakan sahur. Sajiannya memang sederhana, nasi putih, tumis sayur buncis dan telur dadar, yang ingin kami bagikan kepada 100 orang diluar sana. Kebahagiaan dan rizqi ini juga ingin kami bagi untuk mereka, masyarakat yang tidak mampu dan berada dijalan.
Terharu dengan pengorbanan kawan-kawan relawan, pulang bekerja, mengajar dan aktivitas lainya, tapi masih semangat meluangkan waktu berkontribusi di agenda ini. Lelah dan ngantuk yang mendera, sirna dengan hangatnya ukhuwah islamiyah, berbagi cerita dan celotehan yang mengelitik jiwa. Pukul 03.30 wib, sajian telah siap dan dalam pendistribusiannya, kami bekerja sama dengan klub motor di Bekasi, yaitu BSC, CVJ dan Monas Bersatu, Alhamdulillah... tercapai 100 nasi bungkus yang kami olah sendiri, dan mulailah agenda Sahur On The Road (SOTR).
Acara berlanjut dengan santap sahur bersama, Senang bisa bersinergi dengan saudara/saudari dari klub motor yang cukup istimewa, komunitas yang tehimpun dalam hobi. tampilan Gaya busana, rambut dan hidup yang tak biasa, namun tetap semangat bersilaturahmi dan berbagi dengan sesama. Acara di akhiri dengan photo bersama dan sholat subuh. Dan rangkaian Kampus Relawan kali ini, alhamdulillah... telah terjalin silaturahmi dengan 68 saudara-saudari di Bekasi.
Ramadhan kali ini sungguh istimewa, berharap semoga tahun depan dipertemukan kembali dengan bulan mulia, menorehkan ibadah dan amal yang lebih baik lagi serta bisa luas bersilaturahmi dengan saudara-saudari di Bekasi, aamiin.... Bekasi, 24 Juli 2013, Nurannida**

Rabu, 26 Juni 2013

Siapa saja bisa menjadi Relawan, Relawan milik semua...


Bekasi, Ahad (23/06). Pagi menjelang siang merupakan awal pertemuan dengan relawan - relawan baru, Sebulan lebih merupakan proses waktu yang tak sebentar dalam melaluinya, karena komunikasi kami selama ini hanya terjalin lewat sarana seluler  saja sehingga melalui moment orientasi dan kampus  relawan, yang berlangsung di rumah Alm. Ustad Haris menjadi pilihan paling tepat mengawali perjumpaan kami. Lelah sehabis melaksanakan Senyum Lestari bukan hambatan, karena besar harapan, ingin menjadikan pertemuan ini sebagai bekal untuk mengenal lebih dekat  dan menyambut mereka sebagai saudara-saudari satu perjuangan. Walaupun acara hari ini tak semua relawan baru maupun lama dapat hadir namun Alhamdulillah kami tetap semangat menjalaninya.
Acara diawali dengan pembukaan, lantunan ayat suci Al-qur'an serta sambutan, kemudian dilanjutkan dengan mengenal  lebih dekat tentang Rumah Zakat serta Relawan nya, bersama  Bapak Indrayanto (BM cab. Bekasi), Randy Prayitno (Korel Bekasi) dan kawan-kawan Relawan lainnya, acara dibuat seakrab mungkin, sederhana dan kekeluargaan. Makan bersama, sholat berjama'ah, games dan saling berbagi pengalaman dan informasi  tentang kerelawanan.
Sungguh beragam profesi dan aktivitas teman-teman relawan baru saat ini, ada guru SMK, ada Mahasiswa/i, ada Asisten Apoteker , ada Perawat,  ada ibu rumah tangga, ada guru SD, ada karyawan swasta,  ada wirausaha,  dsb. Sehingga menjadi warna tersendiri , ciri bahwa menjadi Relawan  tak terbatasi keahlian dan bidang tertentu saja.
Terharu saat mengetahui ternyata banyak dari teman-teman relawan baru yang sudah menikah, bahkan telah memiliki satu atau dua orang anak, ada yang masih kecil atau pun yang sudah besar-besar, dan lagi-lagi memupuskan anggapan yang pernah saya dengar "bahwa, jadi relawan itu pensiunnya kalau sudah menikah", kenyataannya malah yang bergabung banyak yang sudah menikah dan menjadi Relawan tak terbatas pada status saja. Mereka  termotivasi karena prihatin pada kondisi lingkungan sekitar tempat tinggalnya, yang sangat memprihatinkan, banyak kemiskinan, kriminalitas dan anak-anak jalanan. Dan ada yang  termotivasi ingin menjadi lebih dan bisa bermanfaat  mengisi usia dan waktunya. Subhanallah...
Walaupun terkesan mendadak kami menghubungi  teman-teman relawan baru (H-1) untuk menghadiri acara tersebut, tapi lagi-lagi saya dibuat terkesan karena motivasi mereka dalam upayanya, yaitu saat ada yang jauh-jauh dari Bogor, ada yang dari Cikarang, serta Tambun meluangkan waktu ke Bekasi demi menghadiri  acara yang kami buat,  ada yang pulang kuliah, sehabis bekerja, selesai menghadiri acara keluarga, dan sekelumit lainnya perjuangan mereka, dalam mengawali perjumpaan ini. Padatnya aktivitas tidak menjadi hambatan menjadi Relawan.
Setelah menyaksikan pemutaran Video Ridwan Kamil, teman-teman Relawan baru  diminta menuliskan ide serta mimpi-mimpi mereka , dan tahukah kawan, ada yang mempunyai ide membangun pompa air bersih karena di daerah kumuh dan perkotaan sudah sulit menemukan sumber air bersih, ada yang ingin membangun sebuah sekolah Internasional dengan mengedepankan hafala Qur'an dan masyarakat miskin yang mempunyai potensi, ada pula ingin membangun komunitas bahasa Arab sebagai ciri komunitas muslim yang maju membangun peradaban umat dan ada yang ingin mengembangkan hoby memasaknya sebagai sebuah lahan usaha yang berguna bagi masyarakat dsb.  Dan lagi-lagi, mengunggah saya bahwa melalui aksi kerelawanan bisa melakukan bermacam-macam manfaat...
Teringat artikel sederhana yang pernah saya tuliskan, Relawan menurut saya adalah wujud da'wah terbaru, walau mungkin sekarang sudah bukan hal baru lagi, namun masih saja belum serius kita garap, di era modern ini. Rasulullah telah mencontohkan dan beliau adalah Relawan Allah. Siapkah kita mencontohnya? Relawan tak hanya Ikon kemanusiaan semata, ada tujuan dan cita-cita yang lebih besar dari itu semua, meraih Ridho Illahi. Dan menjadi  Relawan, bisa siapa saja.. tak terbatasi keahlian dsb.. karena Relawan milik semua... Slam TWS. (*Nurannida)

Minggu, 16 Juni 2013

Kematian Hati


Banyak orang tertawa tanpa (mau) menyadari sang maut sedang mengintainya. Banyak orang cepat datang ke shaf shalat laiknya orang yang amat merindukan kekasih. Sayang ternyata ia datang tergesa-gesa hanya agar dapat segera pergi. Seperti penagih utang yang kejam ia perlakukan Tuhannya.

Ada yang datang sekadar memenuhi tugas rutin mesin agama. Dingin, kering dan hampa, tanpa penghayatan. Hilang tak dicari, ada tak disyukuri. Dari jahil engkau disuruh berilmu dan tak ada izin untuk berhenti hanya pada ilmu.

Engkau dituntut beramal dengan ilmu yang Allah berikan.Tanpa itu alangkah besar kemurkaan Allah atasmu.

Tersanjungkah engkau yang pandai bercakap tentang keheningan senyap ditingkah rintih istighfar, kecupak air wudhu di dingin malam, lapar perut karena shiyam atau kedalaman munajat dalam rakaat-rakaat panjang.

Tersanjungkah engkau dengan licin lidahmu bertutur, sementara dalam hatimu tak ada apa-apa. Kau kunyah mitos pemberian masyarakat dan sangka baik orang-orang berhati jernih, bahwa engkau adalah seorang saleh, alim, abid lagi mujahid, lalu puas meyakini itu tanpa rasa ngeri.

Asshiddiq Abu Bakar Ra selalu gemetar saat dipuji orang. “Ya Allah, jadikan diriku lebih baik daripada sangkaan mereka, janganlah Engkau hukum aku karena ucapan mereka dan ampunilah daku lantaran ketidaktahuan mereka”, ucapnya lirih. (Ust.Rahmat Abdullah, sang Murabbi)