Sabtu, 25 April 2015

Satu Langkah Kebaikan Menyelamatkan Bumi Kita



Bekasi. Sabtu, 25 April 2015. Memperingati hari bumi sedunia yang jatuh tanggal 22 April 2015, Relawan RZ Bekasi mengadakan aksi penanaman pohon di SDN Jatimulya 04 Bekasi, Jln. Kp. Rawa Sapi, Jatimulya, Tambun Selatan. Acara di mulai pukul 08.00 WIB, setelah di buka dengan do’a bersama kemudian sambutan dari perwakilan SDN Jatimulya 04 Bekasi, Bapak Wardimin (Guru Pendidikan jasmani) dan dilanjutkan dengan sambutan Korel RZ  Bekasi, Ramdhani. 

Aksi memperingati hari bumi, dihadiri siswa-siswi kelas 05 sebanyak 115 orang dan kelas 06 sebanyak 105 orang, guru-guru dan Relawan RZ Bekasi. Pukul 09.00 wib, serah terima simbolis pohon dan alat kebersihan dari relawan ke sekolah, yaitu lima bibit pohon Mangga, lima bibit pohon Jambu, pupuk kandang, tempat sampah dan pamflet ajakan kebersihan serta menjaga lingkungan. Siswa-siswi pun turut serta dalam serah terima pohon. 

Pukul 10.00 wib, ice breaking dan pembagian hadiah. Kemudian dilanjutkan dengan photo bersama dan menanam pohon Mangga dan Jambu di halaman belakang sekolah. Aksi ini merupakan bentuk kepedulian kita pada lingkungan sekitar, terhadap semakin besarnya kerusakan dan kotornya lingkungan. 
Lewat aksi tersebut bertemakan “Satu langkah kebaikan menyelamatkan bumi kita”, kami (Relawan RZ Bekasi), mengajak siswa-siswi dan masyarakat sekitar untuk menjaga lingkungan, membuang sampah pada tempatnya, tidak merusak tanaman, penghijauan dsb. 


Sogi Librata Saputra (10 tahun), kelas 05. Mengaku senang, baru pertama kali ikut aksi ini dan berjanji turut menjaga kebersihan rumah dan kelas, serta membuang sampah pada tempatnya. Senada dengan sogi, Nadia Azzahra (10 tahun) kelas 05 juga senang bisa bermain, dan belajar menanam pohon. Alifia Nurkhahamidah (11 tahun), kelas 05 mengajak teman-teman untuk merawat dan menjaga lingkungan untuk generasi yang akan datang.
Bekasi, 25 April 2015 **Nurannida

Selasa, 20 Januari 2015

Spiritual dan Sosial Mapping

 Bekasi, 18 Januari 2015. Hari ini merupakan kali kedua Kampus Relawan RZ diadakan di awal tahun 2015. Siang yang sejuk, dengan mendung bergelayut, terlihat kang Aher dan Bundo tengah asik, sibuk merias lokasi kantin bu Syamsiah dengan properti yang sudah dipersiapkan sebelumnya. Bendera RZ, deretan huruf-huruf cantik warna-warni bertuliskan “Relawan RZ Bekasi”, kalender bekas sebagai papan tulis, alat tulis dan spanduk bekas. Kang Aher dan Bundo adalah relawan yang pertama kali hadir, tentunya wajar karena memang lokasi Kampus Relawan (KR) dekat dengan ‘Pondok Cintanya’(Red : Rumah/kediaman). *uhuk…uhuk….
Satu persatu, teman-teman relawan berdatangan. Acara KR pun dibuka, Tema KR kali ini yaitu, “Spiritual dan Sosial Mapping”, bidang ilmu yang berbeda tapi saling berkaitan. Pemateri Pertama, Pak Abdul Latief, biasanya kami menyapa singkat, Pak Al, jadi teringat nama seorang publik figur yang sedang digandrungi. J
Dalam tausyiahnya, Pak Al menyampaikan tentang ciri-ciri umat terbaik, yaitu umat yang paling tenang, senantiasa berdzikir menyebut asma-Nya, umat yang paling bertaqwa dan beriman, umat yang rajin menyampaikan amar ma’ruf, dan umat yang rajin mencegah nahi mungkar. Seperti yang tercantum dalam surat Al Imran : 110-111, yaitu :  “Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya ahli kitab beriman, namun kebanyakan mereka adalah orang-orang fasik. Mereka tidak akan membahayakan kamu, kecuali gangguan-gangguan kecil saja, dan jika mereka memerangi kamu, niscaya mereka mundur berbalik ke belakang (kalah). Selanjutnya mereka tidak mendapat pertolongan.” Melalui Firman Allah SWT, dikatakan umat Islam adalah umat yang terbaik, dimana orang yahudi dan nasrani tidak akan rela kepadamu (umat Islam), sebelum mengikuti agama mereka. Banyak upaya dan usaha yang dilakukan orang-orang yang membenci umat islam, bahkan tak segan mengambil peluang-peluang di moment bencana,  seseorang bisa berpindah keyakinan menukarnya hanya dengan sebungkus mie instan dan iming-iming kehidupan yang lebih baik, atau moment relaks seperti olahraga di Car Free Day, mereka memperdaya pemuda islam yang belum matang dengan memberikan kalung atau makanan ringan yang berhiaskan simbol agama lain dan ini merupakan tugas kita dalam mencegahnya. Memperbaiki diri, banyak belajar kemudian terjun ke masyarakat menerapkannya, lewat pengajaran dan meluruskan pemahaman keislaman.

Acara rehat sejenak dengan ice breking, teka-teki sederhana mengasah otak dari MC. Kemudian acara dilanjutkan kembali dengan materi kedua, oleh Pak Ahmad Nur Ramadian.CHt, biasa kami sapa pak Ian, beliau memaparkan tentang sosial mapping. Sosial mapping atau permetaan sosial, walau akrab di telinga namun baru kali ini kami membedah apa itu ilmu sosial mapping yang sebenarnya. Dibandingkan Survei, Sosial mapping lebih detail, spesifik dan luas dalam mengali dan mengambil data tentang suatu wilayah, sedang survei hanya mengambil bagian luar/kulitnya saja. Pengertian Sosial mapping adalah proses penggambaran masyarakat yang terarah yang melibatkan masyarakat, mengumpulkan data dan Informasi mengenai masyarakat dalam bentuk profile dan masalah sosial. Intinya, lewat sosial mapping kita mendapatkan profile wilayah, mengetahui potensi wilayah/desa, dapat memperkirakan kebutuhan masyarakat dan rekomendasi program yang akan dilakukan. Dasarnya adalah jurus 5W1H (What,Why,Where,Who,When dan How).
Pak ian, banyak berbagi dengan kami pengalaman-pengalaman selama dilapangan, baik suka maupun duka dari daerah satu ke daerah yang lain, dalam mengelola sosial mapping. Kami juga diajari teknik membuat data profile desa, potensi desa, kebutuhan masyarakat dan pohon masalah, kemudian mempraktekannya. Menuangkan data yang didapat lewat kertas origami, kertas karton, spidol warna-warni, pensil dan pulpen. Kami juga berbagi peran, ada yang menjadi pak RT, ibu PKK, petugas sosial mapping dan masyarakat desa. Mengelola data sosial mapping tak sesederhana yang saya pikirkan, tidak sehari, dua hari, sepekan, bahkan sebulan, tapi dari penuturan beliau idealnya minimal tiga bulan baru didapat hasil yang diinginkan, realistis dan sesuai dengan kebutuhan.
Berinteraksi dan berda’wah di masyarakat tentu ada ilmunya, Agar kita bisa diterima dan berbaur, sehingga dapat mengerti kebutuhan masyarakat dan mereka mau mengikuti apa yang kita sampaikan. Spiritual dan Sosial Mapping, tentunya mempunyai keterkaitan.
Banyak hikmah yang saya dapat di KR yang singkat ini, bisa belajar dengan orang-orang hebat yang pakar di bidangnya, mutiara ilmu memang bisa didapat dimana saja. Ilmu ini belum tentu atau bahkan tidak diajarkan di pendidikan resmi.

 Pada akhirnya tantangan aplikasi dan praktek di masyarakat menjadi peer kami selanjutnya. Relawan, Salam Semangat!. **Nurannida, Bekasi 20 Januari 2015

Rabu, 14 Januari 2015

Relawan itu Sederhana tapi Luarbiasa

Bekasi. 04 Januari 2015. Pasca Diksar 2014, keluarga besar relawan bekasi pun bertambah, tidak hanya bertambah jumlah tapi juga bertambah ragam keahlian yang di miliki, terasa semakin warna-warni dunia kerelawanan kami.
Awal Januari 2015, kami buka dengan Kampus Relawan atau biasa disingkat dengan KR. Mengingat sudah memasuki musim penghujan maka, materi yang di ulas pun seputar Siaga Bencana fokus pada bencana Banjir. Karena Bekasi, masuk dalam daerah rawan Banjir, dimana semakin maraknya pembangunan sarana prasarana umum, menjamurnya Mall dan perumahan yang akhirnya mempersempit lahan hijau di Bekasi, daerah resapan air pun semakin sedikit, tidak berimbang dengan meningkatnya pembangunan kota.
Pembahasan KR di bagi 2 sesi, setelah pembukaan, tilawah dan sambutan, sesi 1 mengenai Manajemen Bencana. Berbekal hasil Diklat Siaga Bencana di Bandung, saya ingin berbagi pengetahuan kebencanaan kepada teman-teman relawan cabang, materi berkisar tentang apa itu Bencana, lalu macam-macam bencana, kemudian siklus bencana secara umum dan khusus, dari tahap Preventif (pencegahan), Mitigasi (usaha yang dilakukan), Preparing (persiapan yang dibutuhkan), Emergency (Evakuasi saat bencana) dan Rehabilitasi serta Rekonstruksi (pemulihan dan perbaikan), setelah itu kami belajar bersama-sama bagaimana membuat pelaporan bencana, ada yang sederhana yaitu sms Gateway juga pelaporan secara detail kepada lembaga dan masyarakat dalam bentuk Update Report, kemudian membuat persiapan dalam menghadapi bencana, sharing pengalaman dan tanya jawab kebencanaan lalu membentuk Tim Siaga Bencana, yang fokus pada manajemen kebencanaan walaupun saat bencana kami semua bergotong-royong harus turun, tidak peduli bagian dalam tim atau tidak, karena menjadi panggilan jiwa kerelawanan dalam membantu orang lain yang membutuhkan.
Sesi 2, silaturahim relawan ajang ta'aruf relawan. Pasca Diksar, kemudian Indonesia Mendongeng 2, belum ada kesempatan kami mengenal lebih dekat. Membahas kegiatan yang sudah berjalan dan rencana kegiatan yang akan datang.

Alhamdulillah... agenda KR bulan ini dapat berjalan lancar, walaupun seadanya tapi hasilnya luarbiasa, terharu dengan usaha keras teman-teman dalam mewujudkannya. Bergotong royong mensetting lokasi kantin SD, menjadi ruang belajar yang istimewa dengan properti huruf bertuliskan “Relawan RZ Bekasi” yang kreatif, lalu suguhan bawaan makanan teman-teman yang beragam, ada juga yang berasal dari kampung halamannya, ibu pemilik kantin pun menghampiri kami, rupanya ikut memberikan rambutan hasil kebunnya, enak, kenyang, melimpah dan semoga berkah yaa.. (aamiin...), Lalu ada pula pembagian cendramata berbentuk kalender bertemakan Diksar, salah satu oleh-oleh dari peserta Diksar 2014. Dan akhirnya acara KR diakhiri dengan dokumentasi, photo bersama. Sederhana, tapi luar biasa, “Dari kita,  oleh kita dan untuk kita”. Bekasi,14 Januari 2015**Nurannida






Jumat, 04 Juli 2014

Manfaat Imunisasi dan PHBS

Bekasi. Ahad, 29 Juni 2014. Kampus Relawan yang kami adakan bukan merupakan kampus relawan pertama, yang mengangkat tema PHBS (Pola Hidup Bersih dan Sehat) , ditambah ada materi lainnya yaitu tentang Imunisasi. Tentu Pemateri  yang dipilih berasal dari background Kesehatan (Medis).

Rachmawati atau mba Rachma biasa saya memanggilnya, beliau seorang ibu rmuda yang berprofesi Bidan, sudah membuka praktek sendiri dirumahnya, juga aktif  terlibat dalam organisasi kemasyarakatan. aktifitas lainnya di kemasyarakat yaitu sebagai Koordinator Pendamping Kader Posyandu (PKP) Kota Bekasi dan Ketua Perempuan Cendekia Foundation .

Pembelajaran PHBS kali ini lebih dalam, tidak hanya berkisar manfaat untuk diri sendiri juga  diharapkan dapat ditularkan, bermanfaat sebagai bekal kita (red : Relawan) di masyarakat. Dimulai  dengan  merubah prilaku  kita yang kurang baik menuju hidup  bersih, sehat dan teratur .  Seperti : Mandi dua kali sehari, mencuci rambut  tiga kali seminggu, tidak menggantung pakaian kotor karena menyebabkan saranmg nyamuk, tidak tukar-tukar pakaian, sikat gigi dua kali sehari, memotong kuku,  makan-makanan yang bergizi, berolahraga, cuci tangan  sebelum makan dan sesudah BAK/BAB dsb.  Untuk PHBS di lingkungan keluarga, yaitu menguras bak mandi dua kali seminggu, membuka pintu dan jendela di pagi hari, ada nya ruang ventilasi yang baik, membuang sampah pada tempat sampah, memberi jarak antara sumber air bersih dengan sepitank dsb.

Sedangkan PHBS untuk masyarakat yaitu bergotong royong membersihkan selokan,  membuat penampungan pembuangan sampah masyarakat, menimbang bayi,  memberikan asi bagi bayi, memberdayakan peran posyandu, memberikan edukasi kemasyarakat lewat penyuluhan kesehatan dsb.  Seseorang yang tidak menjaga kebersihan dan kesehatan dirinya mudah sekali sakit, lemah dan tidak bersemangat dalam beraktifitas, juga bermasyarakat, selain itu  secara tidak langsung juga memberi dampak  negatif kepada sekitarnya, yaitu penularan penyakit. Contoh-contoh penyakit yang ditularkan yaitu, diare, tbc, kadas/kurap/panu, mata merah, kaki gajah, demam berdarah, malaria dsb.

Sehingga dari penjabaran tersebut, amat pentinglah keterkaitan antara PHBS diri sendiri dan masyarakat.
Sesi selanjutnya juga membahas tentang Imunisasi,  dimana imunisasi wajib diberikan kepada anak yang baru lahir hingga menginjak usia tertentu dengan jenis vaksin yang disesuaikan dengan peraturan yang dibuat pemerintah. Alasannya yaitu kondisi lingkungan yang sudah tercemar polusi udara-suara, radiasi dsb. Mempengaruhi perkembangan dan daya tahan bayi, sehingga rentan terinfeksi penyakit, tidak menutup kemungkinan asupan vitaman dan gizi yang kurang juga mempengaruhinya.  Sehingga pemberian imunisasi dini  pada bayi baru lahir amat dibutuhkan.

Di sesi tanya jawab, ada pertanyaan mengenai  isu keharaman dalam pembuatan vaksin, dimana katalisator (pembawanya) berasal dari  enzim babi,  Bidan Rachma  menanggapinya, lewat informasi yang beliau dapat dari dokter dan peneliti -peneliti Islam, mengenai isu tsb. Jawabnya, memang katalisator dalam pembuatan vaksin masih mengunakan enzim babi dikarenakan harganya yang murah dan baik dibandingkan enzim sapi, yang baik namun harganya cukup mahal dan  prosesnya sulit, dalam proses pembuatan vaksin juga ada proses pembersihan zat aktif di vaksin yang dibawa (katalisator), pembersihan tsb berlangsung selama tujuh kali, proses  pembersihan akhirnya yaitu menggunakan pasir, hampir mirip dengan bersuci(Taharah dalam Islam), sehingga vaksin tersebut bersih dari enzim babi yang dibawa lewat katalisator.


Masih banyak ilmu yang kami dapat, dari kampus relawan kemarin. Bersyukur, dan  banyak merenungi, keindahan Islam sebagai agama Rahmatan lil'alamin sungguh  sempurna , mengatur kita dari bangun tidur hingga tidur kembali, PHBS juga terkait didalam aturan-aturan didalam Islam.  Tinggal bagaimana kita mau mengikuti dengan taat , belajar dan berubah atau meninggalkannya, semua berpulang pada keinginan dan motivasi diri. Wallahu'alam bisawab...

Bekasi, 03 Juni 2014, Nurannida**

Senin, 28 April 2014

Catatan Alumnus Salak

Ide ini mula-mula dari Power Ranger n’Friend, sepertinya mereka galau abis, saat melihat photo-photo saya di Cikuray atau Uly di Gede, hahaha… *Pedehh 

Intinya kita semua kangen Gunung ajah, titik(.) *Kitaaaa…???akuuurrr… 

Allah SWT, Maha pencipta keindahan…
Mereka hidup, berdzikir tak kenal lelah, sujud dan taat mengikuti perintah penciptanya. Kangen mendengarkan mereka bercerita, kicauan burung-burung yang bersahutan, hembusan angin, tarian pepohonan, perkasanya gunung, kemilau matahari yang menyinari, gemericik air mengalir, aroma daun bercampur tanah, tetesan embun. Subhanallah… paduan yang luar biasa indahnya.

Terencana tiga bulan, sejak Januari hingga pertengahan April , *lamanyaaaa… dan
Alhamdulillah… akhirnya bisa menjumpaimu, dari trip awal ke Gede-Pangrango, ganti ke Papandayan, balik lagi ke Gede-Pangrango namun akhirnya Salak yang Allah Ridhoi… (Jodohku, kata mas lanang heransayah. Hahaha…)

Pengumpulan Informasi
Dimulai Januari sampai Februari 2014, rencana ke Gede-Pangrango kami urungkan karena jalur pendakian sementara ditutup, akibat cuaca dan kasus kematian pendaki pemula. Beralihlah ke Papandayan, di bulan ini fokus kami hanya pada siaga banjir, sedikit informasi yang tergali untuk rencana pendakian ini. Meletusnya Sinabung kemudian disusul Kelud, tertahanlah impian kami, apalagi saat mengetahui Papandayan berada dalam daftar 22 gunung berapi di Indonesia, dengan status waspada level 2.

Akhir Maret, Back to Gede-Pangranggo.  
Tak apalah dengan kuda besi, cukup berdua saja kami mengawali survei ini, merumuskan kembali mimpi-mimpi menjumpaimu. Sore yang indah menuju kota bogor, menikmati khitmatnya sholat Maghrib dan Isya di Masjid Raya Bogor, sedapnya serabi pisang-keju-susu ada juga yang dikombinasikan dengan durian, ditemani secangkir kopi susu atau jus jeruk, aah… Ma’nyuz bonus empat jempol, dan kami memutuskan bermalam di rumah sahabat berbagi kisah. 

Pagi yang sejuk di kota Bogor, sedikit terlibat dalam kegiatan kerelawanannya, di sebuah pesantren bernama Ummul Quro, santriwatinya cantik, lugu dan ramah, euy… *benerin jilbab sambil ngaca
Dan cukup tau saja kalau orang bogor bilang deket, padahal arti sebenarnya jauh, apalagi kalau bilang jauh ya?

Setelah sholat Dhuhur di masjid Al Hurriyyah IPB yang indah, kemudian kami pamit menuju Cibodas, mendaftarkan diri menemuimu. Dalam waktu lima puluh menit tancap gas, Alhamdulillah… kami sampai. Karcis retribusi di dae
rah wisata ini cukup mengelitik, tertulis tiga ribu rupiah persatu orang, tapi kami musti bayar sembilan ribu, *Nahloh… sisanya kemana tuh? Bapak… Ibu…(gaya Ibel…)

Dibawah karcis tertulis, “Bisikan Alam : Biarkan aku tumbuh, Demi masa depanmu yang jaya”.

Sampai di kantor pendaftaran lagi-lagi harus menelan kekecewaan, pengajuan pendakian kami, di tolak. Ada juga calo yang menawarkan pendakian, tapi cukuplah akhiri sejenak perjalanan ini, mari tutup dengan menikmati nasi soto dan teh hangat, mengulas kembali cerita-cerita indah di Mandalawangi, sambutan paralayang di Puncak Pass yang berayun di langit sore, mendarat indah dihamparan kebun teh. Kereeeen… 

Menjelang senja, kami menghubungi Mang Ojo, guide yang memang sejak awal akan menemani, dalam pendakian ini, harap bisa membantu, kebuntuan usaha ini, menjumpaimu… dan pendaftaran Gede-Pangrango kami sepakati lewat jalur Salabintana dan bila tak terwujud, Salak akhir keputusan kami.

April, Go to Salak I’m comeback again…
 
Menyiapkan perlengkapan, menjaga kondisi fisik dan perbekalan, merupakan fokus kami saat ini. Saya bahagia dan bersemangat, melihat keyakinan dan antusias teman-teman untuk terus melanjutkan trip ini, walaupun tempat berganti-ganti, perlengkapan yang belum memadai dan jumlah kami, menjelang pendakian malah semakin sedikit. 

Jum’at, 18 April 2014.
Bismillah… total jumlah kami, fix dua belas orang, tujuh srikandi, tiga pengawal dan dua panglimanya. *ups, haha.. tujuh wanita, dan lima laki-laki.
Kereta merupakan alternatif yang paling nyaman, murah dan mudah yang kami pilih. Bertemu di stasiun Bekasi, berangkat pukul 07.00 wib, dan sebagian ada yang melalui stasiun Pondok Kopi. Pukul 09.00 wib, kurang lebih sampai di stasiun Bogor, bertemu mang ojo dan mang marsya, belanja sedikit perbekalan makanan, kemudian trip dilanjutkan lewat arah timur menuju jalur Cimelati dekat Cicurug, tepatnya perkebunan murbei dengan carter angkot yang doyan minum teh gelas,*amajing, bingit…
Pukul 12.00 wib sampailah tempat yang dituju, sholat jum’at, lalu istirahat sejenak di pos registrasi. Trip kami mulai pukul 16.00 wib, memasuki rerimbunan hutan Gunung Salak, menerobos semak, melewati satu demi satu pepohonan yang menjulang, menyusuri jejak, sunyi, sepi dan tak terlihat seorang pun pendaki, serasa hutan hanya milik kita. Dalam hati, Berharap semoga pengalaman mistik tahun kemarin tak terulang lagi. *Huwaaa…
Mengawali langkah dengan do’a bersama, pompaan motivasi semangat, sesekali celotehan yang mengelitik, dari ibel… ibil dan ubil (bukan nama sebenarnya, sebut saja begitu,hahaha…).
Tiga jam perjalanan, Menjelang maghrib, kami sampai di shelter 9, dan bermalam. Tempat ini merupakan satu-satunya sumber air. Menikmati racikan nasi liwet, ala chef mang ojo dan sruputan kopi susu, sungguh hutan yang ramah menyambut hangat kehadiran kami.

Sabtu, 19 April 2014.
Pagi pukul 07.30 wib selesai cek packing dan sarapan, kami melanjutkan perjalanan, menuju puncak.

Gunung salak, memang bukan gunung tertinggi di Jawa Barat, berada di wilayah kabupaten bogor dan kabupaten sukabumi, memiliki beberapa puncak, puncak tertingginya yaitu Gunung salak 1 (2.211 Mdpl). Namun tak mudah mendakinya, jalurnya terjal dan licin, apalagi di saat musim penghujan, Tragedi Sukhoi masih menjadi catatan kisah yang terus diulas disana, dan para penziarah selalu berdatangan tiap bulannya.

Trip menuju puncak banyak diselingi istirahat, ada 13 pos.

Cemilan, coki-coki, mie gelas dan energen cukuplah untuk mengobati mata saya yang kunang-kunang, *hahaha… dan Saya tercatat paling sering istirahat, selalu terakhir dalam barisan, “santai bin alon-alon asal teko neng puncak karo mas slamet lorenzo,kawan…” *haha… ngeles…

Pukul 13.00 wib, Alhamdulillah… sampai Puncak Salak 1, sumringah… capenya hilang. 

Beristirahat sejenak dan mendokumentasikan sudut-sudut favorit, di puncak salak 1.
Di Puncak salak 1 terdapat petilasan, Raden KH Moh. Hasan bin RKH Bahyudin Braja, yang biasa di sebut makam Embah Salak. Ngeri mendengar cerita mang ojo (volunteer sukhoi), Tempat lapang kami bernarsis ria ternyata dahulu tempat meletakkan mayat korban sukhoi.

Makam embah salak kabarnya juga rusak akibat tragedi tersebut, akibat tertimpa logistik, tapi kini sudah mengalami perbaikan.

Mendung berkabut mulai menyelimuti puncak, hujan turun perlahan dan kami bersiap turun melalui jalur berbeda, menuju camp kedua, biasa di sebut Bajuri, kurang lebih jaraknya 5 Km dari puncak. Pukul 13.44 wib kami beranjak meninggalkan puncak, kostum berganti jas hujan, menuruni jalur curam, licin bergelayut dengan seutas tambang, tertusuk duri semak merambat, senantiasa berhati-hati menyusuri jalur ini.
Sisi-sisinya jurang yang tertutupi lebatnya hutan yang kaya ragam vegetasi hutan hujan tropis, ada kantung semar dan anggrek. Berbeda di jalur sebelumnya, kami banyak bersua pendaki yang baru naik ataupun turun. Kemudian melewati rute salak 3 dan salak 4, menyembul kawah ratu dibawahnya indah nian hamparan pegunungan ini.

Hari mulai gelap, lembab, menipisnya oksigen, dingin, lelah dan tentunya lapar, saudara-saudari… *hahaha…

 Melewati lumpur yang ternyata kubangan babi, belepotan dan kejeblos.*oohh… my God, ga pada bilang padaan…

Menuruni bebatuan dan pohon tumbang, merosot dan menunduk, bergesas harus kami selusuri berkejaran dengan waktu, untuk segera mencapai Camp Bajuri, pukul 23.00 wib belum sampai ditempat yang dituju, sebagian dari kami sudah limbung kelelahan, bahkan kami sempat terpisah.
Salut untuk mang ojo dan mang marsya, yang tetap semangat dengan sepatu boot dan carrier besarnya, ditambah membawa beberapa carrier kami. *My Hero, sodorin bunga. haha…
Pukul 01.00 wib, kami baru sampai di Bajuri, dan bermalam disana. Pusat perkemahan pendaki, dan tentunya sumber air bersih melimpah ruah disini. 

Ahad, 20 April 2014
Hari yang indah, setelah sarapan dan cek packing, pukul 09.30 wib trip dilanjutkan turun menuju kawah ratu, gunung Bunder, taman nasional hutan gunung halimun. Berdo’a bersama dan menyemangati.

Menyusuri aliran sungai kecil, patok perbatasan kabupaten bogor-kebupaten sukabumi, landasan helly dan menikmati tanaman perdu hutan hujan tropis, ada begonia yang biasa di makan pada batangnya, asem-asem seperti belimbing sayur, batang sagu, pakis dan buah haredong (senggani), rasanya manis, kecil, berbulu dan ungu tua.  Menyusuri sumber mata air, walau landai tetap harus berhati-hati menyusurinya, sesekali menunduk.

Melewati jalur kawah mati I dan II, vegetasi tembakau merajai, terjal, agak menanjak, bau belerang semakin menusuk di jalur ini.

Tak bisa kami berlama-lama menikmati keindahan kawah Ratu, karena adanya papan peringatan, petunjuk untuk tidak berjongkok lebih dari 3 menit, karena bahaya ancaman gas beracun. Menyantap agar-agar dan berphoto, kemudian kami melanjutkan perjalanan. Menyusuri sungai kecil, ada yang warnanya putih dan hangat pengaruh belerang masih terasa.



Memasuki hutan, bebatuan yang berlumut dan hujan semakin deras, banyak jalan air yang kami lewati, banjir dan memotong arus sungai yang deras, tak ada papan petunjuk disini.


Pukul 16.00 wib, Alhamdulillah… kami sampai jalur barat pintu masuk kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak, beristirahat di kediaman mang ojo dan keluarga, membersihkan diri, sholat maghrib, menikmati makan malam dan berpamitan. Sedih bercampur senang, meninggalkan gunung ini dan seluruh keindahan di dalamnya, bertemu keluarga dan orang-orang tercinta, melanjutkan kembali aktifitas dalam hiruk pikuk kota.

Bagi sebagian orang berpendapat, mendaki gunung membuang-buang waktu, menantang bahaya, menakutkan, cari penyakit dsb, saya pun dulu juga berpikir begitu. 

Alhamdulillah… saya mendapatkan motivasi dan semangat baru, dalam balutan hikmah, menapaki hijau, kokoh, tenang dan sejuknya pegunungan ini.

Dan saya yakin, teman-teman juga mendapatkan motivasi dan hikmah jauh lebih dahsyat dan tak sesederhana saya…
Menaklukan kesombongan dan ketakutan, belajar bersabar, bersahabat dengan alam menjaga kelestariannya, pantang menyerah, banyak mensyukuri nikmat islam, usia, kesehatan, keluarga yang Allah anugerahkan… terlalu dini memang, saya mengucapkannya apalagi kedangkalan pengalaman dan ilmu yang saya dapat, bila Allah berkehendak masih banyak impian saya menjumpai gunung-gunung yang indah di Indonesia.

Bisa mencapai puncak memang tujuan tiap pendaki, tapi proses mencapainya jauh lebih berharga, kenangan indah yang menjadi untaian cerita di hari tua. Gasten Rebuffat-the great alpinist/ahli mountaineering, 1921-1985, Prancis mengatakan “Manusia Cuma bisa menjejak puncak, tapi tak pernah bisa menaklukan gunung”.

Terimakasih untuk semuanya, Allah SWT, do’a ikhlas kedua orang tua, Indonesia tanah air beta dengan Gunung salak beserta isinya, pejuang tangguh yang menyertai ada uly, yuniar, desi, kiki, lisa dan marwiyah(rela jauh-jauh dari lampung), zulkifli, dhani, ikbal, mang ojo-keluarga dan mang marsya. Mohon maaf dan terimakasih… terimakasih… terimakasih…

Nurannida, 28 April 2014