Minggu, 09 Desember 2012

Keimanan



Keimanan itu bukanlah semata-mata ucapan yang keluar dari bibir dan lidah saja,
ataupun hanya semacam keyakinan dalam hati belaka,
tetapi keimanan yang sebenar-benarnya adalah merupakan suatu akidah,
atau kepercayaan yang memenuhi seluruh isi hati nurani,
dan dari situ dan dari situ akan muncul pulalah berkas-berkas atau kesan-kesannya,
sebagaimana munculnya cahaya yang disorotkan oleh matahari,
dan juga sebagaimana semerbaknya bau harum,
yang disemarakkan oleh setangkai bunga mawar.

Salah satu dari pada kesan-kesan keimanan itu ialah,
apabila Allah dan RasulNya dirasakan lebih dicintai olehnya dari segala sesuatu...

AqidahIslam-SS

Jumat, 07 Desember 2012

Cinta atau Benci


“bila hati bersemi.... bila cinta itu berbunga”
“bila hati itu retak... bila cinta itu pupus...”

Lagi – lagi cinta mengisi cerita, dunia tanpa cinta seperti sayur tanpa garam.., lho kok bisa? ya bisa, itu kata buku yang judulnya ARMANUSA lho, sedikit review, kisahnya tentang seorang putri raja yang mencari cinta sejati, ada kutipan puisi indah didalamnya,
 “Cinta Adakah yang mampu menandingi cinta??
Bila emas yang paling berharga didunia
Setiap orang pasti membutuhkannya
Tak peduli maharaja atau pengemis yang papa
Tapi sang maha raja tak membutuhkan emas
Oleh sebab harta karunnya tlah melimpah ruah
Tetapi siapa yang dapat menolak garam
Yang dibutuhkan setiap hari, setiap hadirnya masakan
Tanpa garam, tak ada kelezatan
Tanpa cinta, tak ada kehidupan”
 Bila tak ada emas maka kita bisa menggantinya dengan berlian, intan, zambrud atau barang berharga lainnya tapi dapatkah kita mengganti garam?(hmmm... tentu jawabnya Tidak toh?) gula/cuka/cabai, tentu berbeda rasanya dengan garam. Jadi, sebuah fakta bila Cinta ternyata ada kaitan dengan Garam (he...).
Cinta atau benci, awalnya cinta tak berbalas kemudian benci, awalnya benci namun terimbas kemudian tumbuh jadi cinta, tipis sekali batasnya, seperti jari telunjuk dan jari tengah saling berhimpit, tak berjarak. Rasa cinta bisa jadi benci, rasa benci bisa jadi cinta... (aneh bin heran, tapi memang begitu ). Bila kita review tentu sudah banyak cerita - cerita benci karena cinta ataupun sebaliknya, tak perlulah dijabarkan siapa & bagaimana cerita – cerita tsb.
Nah, ini biasa yang dapat dilihat kalau orang sedang dilanda cinta atau benci, walau rasanya berbeda, sebenarnya sama (red:cinta/benci) yaitu:
1.   Resah/galau/jenuh/bete, walaupun keadaan sekeliling berbeda (menyenangkan).
2.    Semangat bisa naik bisa juga menurun
3.    Tidak fokus/pikiran bercabang
4.    Napsu makan bisa naik bisa juga turun
5.    Mencari ‘pendengar’, untuk curhat.
6.     Emosi sulit dikendalikan bahkan terkadang berlebihan (Tertawa/menangis).
7.    Sensitifnya berlebihan, apa saja slalu dihubung – hubungkan dengan diri.
8.   Kalau tak kuat iman bisa melakukan hal - hal diluar kewajaran ( Nekat!!!, ini yg ghaswaat...)
Terus, cinta yang bagaimanakah yang akan kita rangkai atau kita rajut?, tentu pengennya cinta yang sebenar - benarnya cinta (hakiki/sejati), tak menuntut, tak meminta (nrimo juga legowo kalau versi jowo, he...), cinta apa adanya tak dibuat - buat, tak dipaksa, mencintai kelebihan plus kekurangan bukan seperti istilah “klo abang ada uang ku sayang, klo ngga ya ta’ tendang”, cinta seharusnya senang bila si dia bahagia walaupun bukan dengan kita akhirnya, karena cinta tak harus memiliki dan dimiliki... (penulis tak memungkiri bila kalimat ini terkesan sedikit sok ikhlas, sok idealis tapi namanya manusia tentu butuh proses sampai ketahapan itu dan tetap harus disampaikan walaupun berat). Kadang putaran kisah hidup ini diwarnai bumbu – bumbu penguji cinta, bila teruji maka loloslah ikatan itu menjadi lebih kokoh dan kuat, namun bila gagal maka rasa benci atau sakit hati bahkan dendam yang akan diingat dari sebuah awalan yang bernama “CINTA”.
Cinta terhadap seseorang bukanlah hal tabu untuk dirasakan, bukanlah sesuatu yang harus dipendam atau dikubur bila kita merasa getaran itu dengannya, namun dalam bingkai Islam, rasa itu telah ditinggikan tingkatannya. Tak sembarang orang bisa meraihnya, tak sembarang hati bisa memilikinya, tak sembarang bibir ringan mengucapkannya (intinya ngga diobral lah atau bukan barang murah), karena Allah SWT telah mengatur cara – cara mendapatkan cinta itu secara indah, sehingga semakin indahlah seorang hamba merasakan cinta yang diperolehnya... mengapa sih Allah mengatur cinta? Karena cinta yang tak terbentengi dengan baik, ternodai oleh hawa nafsu semata seperti, karena ia cantik, manis, pintar, kaya, muda, tinggi, kurus, bangsawan, indo(hmmmm...), sempurna(paraahh,malaikat kalee..) dan alasan - alasan lainnya.
Padahal Rasulullah telah menunjukkan lebih mengutamakan si calon pasangan yang baik agamanya. (mengapa?) bila ia tak terbungkus dengan bingkai agama, maka kita telah membuka peluang syetan untuk bermain didalamnya (Nauzubillah minzalik.....) sehingga rasa benci pun dengan mudah dihembuskan oleh syetan, bila akhirnya tak terbalas dan bila terbalas pun hasilnya semu dan sesaat (Astagfirullah...). Cinta didasari bukan dengan kalimat “Karena, dia...” tapi baiknya didasari kalimat “Walaupun, dia...”.
Semoga kita menjadi bagian yang mendapatkan, menjaga, menempatkan dan menerapkan cinta sebagaimana Allah SWT telah mengaturnya. Semoga CINTA kita itu semakin Menguatkan dan dikuatkan Sang Pencipta CINTA, Aamiiiin..........
“Bila perlu waktu lama mendapatkannya, maka akan ku tunggu dengan segala rasa cinta ku kepada-Mu ya Rabb, karena ku tau Kau tak pernah lupa & salah memberinya kepada hamba-hambaMu yang sabar” (Nurannida** 07/11/11)

Relawan Asli vs Palsu




Relawan apa benar – benar sudah ‘Relawan’?, kadang tertegun bila mengulang – ulang pertanyaan ini, ada sebersit rasa bangga namun sedih bila kata itu hanya kita tampakkan dari luar saja namun, bila hati tidak...
 Pengennya dikenal relawan tapi bila dibutuhkan tak ada?(sulit dihubungi, cari – cari alasan, kesibukan atau ungkapan–ungkapan kekhawatiran),pengennya diakui relawan tapi masih menimbang-nimbang urusan kepentingan (red:untung apa nggak buat diri sendiri), mau jadi relawan tapi kok Egois...? (usulannya atau idenya harus goal...) ada juga yang penting ikut-ikut aja deh!(nyemplung sumur mang mau..?)atau yang penting ke data di struktur coy...?(lho..?), asyik dan seru banyak teman–teman, jalan-jalan sampai makan-makan gratis trus...truss ‘n trusss... (tambah ngawur deh tujuannya), ternyata susah ya jadi relawan?maksudnya yang didasari menolong dengan ikhlas benar - benar dari hati tanpa pamrih dari manusia semata.
Tapi, tunggu dulu....,Sebenarnya  mudah lho jadi ‘Relawan’, jika kita mendengarkan hati nurani kita, menekan keegoisan didiri kita, mau berkorban apa saja yang kita mampu asal ikhlas, mulai dari hal-hal terkecil saja dahulu dan yang lebih penting meluruskan niat kita semata–mata jalan ibadah  untuk Allah SWT demi Agama yang kita cintai.
Relawan menurut saya adalah wujud Da’wah terbaru yang belum serius kita garap  di era modern ini, Rasullulah SAW sang Tauladan telah mencontohkan kepada kita tentang pengorbanan-pengorbanan dalam setiap perjuangan beliau ratusan tahun lalu, (subhanallah..). Ia  adalah Relawan Sejati dan tangguh, kepada fakir miskin, anak yatim piatu, janda & kaum dhuafa bahkan kepada seluruh lapisan masyarakat tanpa melihat keyakinan. Baginda Rasulullah dengan ringan tangan, tulus hati serta semangat tinggi, rela membantu siapa pun yang datang kepadanya. Sampai kepada kaum Quraisy yang selalu berbuat jahat kepadanya. Ia adalah ‘Relawan Allah’. Siapkah kita mencontoh sepertinya? Relawan tak hanya Ikon kemanusiaan semata, ada tujuan dan cita-cita yang lebih besar dari pada itu semua. So... sebagai umatnya tak ada kata lain selain siapa takut jadi Relawan, apalagi Relawan ASLI....!! (nggak Asal Jadi), setuju Bro-Sis

Waallahu ‘alam bishawab.. Bekasi, 02 Juli 2011 (Nurannida**)

Persembahan

Ketika kegelapan kian mencekam disekelilingku,
Dan kesedihanku menggumpal bagai kabut pekat yang mengerikan...
Perlahan tangannya menggapai hadir dari kejauhan, melukis bayang-bayang tanah air...
Dan karena kesedihannya mengalir dalam urat nadiku, menjelma menjadi rintihan yang kian mendayu-dayu, Dan merobek segenap kebisuanku!
Dan melahirkan fajar yang tak pernah tahu merunduk dan menyerah,
Sebab mataharinya... adalah tanah air...
Kupersembahkan seluruh kemarahan ini,
Kepada
Ibu
Dan Ayahku!

Peluru ini untuk siapa,alih bahasa: HM. Anis Matta